Katakan & Dengarkan

09 Agustus 2020

Gw menulis ini setelah menonton The Kissing Booth 2. Suka deh sama jalan ceritanya, terlihat ringan sekali untuk ditonton tapi ada pesan penting di filmnya (kedua filmnya).

Jadi garis besar ceritanya adalah tentang drama hubungan pertemanan, percintaan dan persaudaraan. Complicated huh? Yea just like life.

Gw ringkas sedikit, di film yang pertama ada sepasang sahabat sejak lahir dimana si Elle jatuh cinta dengan saudara kandungnya Lee (sahabatnya), padahal mereka berdua telah membuat perjanjian bahwa tidak ada yang boleh jatuh cinta dengan saudara kandung masing-masing. Ternyata eh ternyata kakaknya Lee ini (Noah) juga jatuh cinta dengan Elle sejak lama, akhirnya mereka backstreet lah. Sampai akhirnya ketauan salah satu dari mereka berbohong dan Lee memberikan alasan kenapa dia bikin perjanjian itu adalah karena selama ini Noah lah yang menjadi spotlight di keluarganya. That’s why Lee nggak mau Elle diambil sama Noah. OUCH! Akhirnya dengan kejujuran di endingnya mereka mencoba memahami keadaan masing-masing dan baikan deh akhirnya. Di film kedua diceritakan lagi kelanjutan kisahnya Elle & Noah yang menjalai LDR, juga Lee dan pacarnya. Disini konfliknya masih gemes-gemes-lucu sih, pacarnya Lee cemburu dengan kedekatan Lee dan Elle, karena Elle juga menaruh cemburu ke Noah (yah namanya LDR, sulit sister). Ditambah lagi Elle mulai dekat dengan cowok baru di sekolahnya karena project lomba tari, ternyata cowok ini menaruh perasaan sama Elle (juga Elle) makin rumit sister. Sampai klimaksnya di acara Thaksgiving mereka semua dipertemukan di satu meja dan saling menyindir. Hancurlah makan malam Thanksgiviing itu, hingga akhirnya ibunya Lee memberi masukan ke Elle (ini yang akan jadi topik tulisan gw disini he)

“Daritadi kalian hanya saling bicara tanpa mengizinkan salah satu dari kalian untuk mendengarkan”

DAMN JLEB!


Gw setuju banget sih sama petuah ini, karena keseringan dari kita hanyalah bicara dan bicara dan lupa untuk mendegarkan. Kadang membicarakan tentang kejujuran memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, jika itu sulit unutk dilakukan bisakah kita mencoba melakukan yang paling mudah yaitu mendengarkan.

Sulit memang mencerna semua alasan yang kita anggap tidak logis, setikdanya kita bisa menghargai orang lain karena telah berkata jujur pada kita. Dengan mendengarkan kita bisa membuat piihan selanjutnya dengan mudah tanpa perlu berekspektasi apapun.

Begitu pula dengan berkata jujur, dari konflik yang terjadi pada Elle & Lee kita bisa belajar bahwa menyembunyikan suatu hal dari orang yang kita sayang bukanlah tindakan yang tepat. Jika kita merasa orang itu penting bagi kita kenapa tidak belajar unutk jujur saja?

DO YOU AGREE WITH ME?

Gw sendiri mengalami keduanya, pernah banget sulit mengatakan kejujuran dan sulit mendengarkan. Butuh waktu lama buat gw untuk akhirnya saat ini gw menjadi orang yang selalu menyampaikan apa yang gw rasakan tanpa keraguan dan bisa mendengarkan dengan baik. 

Oiya, ada sih satu orang yang sebenarnya membantu gw berani menyampaikan perasaan gw. Dia senior gw di SMA (gebetan gw dulu), dua tahun gw menyimpan rasa suka gw ke dia nggak berani karena dia kakak kelas. Sakit hati banget tiap lihat dia boncengan sama cewe, tapi gw bisa apa lah dia aja nggak tau kalau gw suka sama dia. Sampai akhirnya gw nekat sebelum dia lulus dan gw nggak bisa ketemu dia lagi, pokoknya dia harus tahu apa yang gw rasain. Akhirnya beraniin diri telpon dia, wiaduh rasanya waktu itu jantung gw mau loncat dan gw masih ingat deh kalimatnya “gw cuma mau bilang sesuatu kok, lo nggak perlu jawab. Gw suka sama lo selama dua tahun ini hehe maaf ya. Makasih loh udah dengerin” dan tenang banget saat responnya dia positif. Kejadian itu jadi pelajaran penting buat gw untuk selalu berani menyampaikan apapun yang gw rasakan. Bahkan bukan cuma perasaan sayang ya, gw juga pernah jujur ke sahabat gw bahwa gw capek banget dengerin dia ngomong mulu nggak berhenti tapi nggak pernah mau dengerin gw curhat. Efeknya ya dia shock sih, tapi setelah itu kita selalu sepakat untuk bertanya terlebih dahulu “lo mau dengerin gw cerita nggak?” atau “gw lagi nggak butuh saran lo, cuma butuh didenger aja”.

Percaya sama gw, dengan menyampaikan apa yang kita rasakan jadinya kita nggak perlu berekspektasi apapun terhadap orang lain. Rasanya LEGA banget.

Kita juga harus belajar menjadi pendengar yang baik, mau itu berita baik ataupun buruk sekalipun. Belajar menghargai apa yang orang lain sampaikan. 

Pernah ada kejadian (ini ada juga tulisannya di blog gw, coba cari tahu deh yang mana hehe), dimana sahabat gw lagi cerita soal apa yang dia alami, gw tahu bahwa salah satu sahabat gw yang lain nggak suka sama jalan ceritanya. Tapi dia mencoba untuk mendengarkan sampai selesai, meskipun berjam-jam hanya diam padahal dia adalah orang paling nggak bisa tutup mulutnya. Cerita selesai, masuk mobil dia nangis sesegukan meluk gw, ternyata dia nggak mau memeperlihatkan ketidak-setujuannya saat sahabatnya bercerita tentang hal yang dia nggak suka. Dia hanya menjadi pendengar yang baik saat itu.


Jadi sister, coba yuk belajar menyampaikan dan mendengarkan dengan baik.

 

No comments: