A Journal To Remember
My (Gratitude) Covid-19 Story
Tim #JiPyeongHalmeoni [Start Up]
Gw bukan seorang movie goers atau series killer. Buat gw tontonan hanya sebuah hiburan, makanya nggak banyak pilihan genre film atau serial yang gw suka. Jenis tontonan yang ringan dan nggak banyak mikir aja yang jadi koleksi, lebih sering nonton ulang film-film yang udah pernah ditonton. Begitu juga soal serial, karena selama pandemi ini penonton serial melonjak tinggi jadi ya gw FOMO (fear of missing out) juga pingin ikutan. Oiya, gw juga bukan tipe penonton K-Drama hahaha makanya ini adalah sebuah rekor dimana dalam setahun gw bisa menyelesaikan 4 empat judul K-Drama.
Di awal pandemi dan Netflix meroket popularitasnya, gw ditantang oleh seorang teman untuk nonton Ittaewon Class. Dia tahu betul genre tontonan yang gw suka, dia yakin gw akan suka Ittaewon Class ini “cobain nonton 3 episode dulu deh, kalau bosen ya jangan dilanjutin” katanya. Eh…malah keterusan sampai final episode karena ceritanya yang menarik dan nggak menye-menye (buat selera K-Drama gw ya ini). Lanjut diracuni Reply 1988 yang katanya “nggak akan bosan deh nontonnya, diulang tiap episodenya juga seru untuk ditonton lagi”, oke…nonton Reply 1988, tapi ke-pending sampai di episode awal aja. Lalu gara-gara Raissa Andriana bilang It’s Okay To Not Be Okay bagus karena fashionnya lucu-lucu akhirnya malah kebablasan ngabisin ceritanya Ko Moon Yong & Sang Tae deh.
Dan karena udah keterusan, selesai nonton It’s Okay To Not Be Okay muncul K-Drama baru, Start Up. Karena visual posternya menarik dan kayanya seru aja ceritanya bukan tentang drama percintaan (kalau dilihat dari judulnya ya) akhirnya ya nonton juga deh, hehehe udah bisa dibilang sebagai “nub” (newbie) belum nih gw?
Oiya…salah satu alasan lain kenapa gw jarang suka sama K-Drama adalah karena ending cerita yang (keseringan) sudah bisa ditebak dari awal episode. Paham nggak tuh?
Yaa…paling nggak di episode 2 atau 3 kita sudah bisa tahu ending ceritanya akan seperti apa, begitu pula dengan Start Up ini. Gw sudah bisa menebak siapa yang akan sukses, siapa yang akan bertepuk sebelah tangan dan apakah happy ending atau tidak. Klise.
Katakan & Dengarkan
09 Agustus 2020
Gw menulis ini setelah menonton The Kissing Booth 2. Suka deh sama jalan ceritanya, terlihat ringan sekali untuk ditonton tapi ada pesan penting di filmnya (kedua filmnya).
Jadi garis besar ceritanya adalah tentang drama hubungan pertemanan, percintaan dan persaudaraan. Complicated huh? Yea just like life.
Gw ringkas sedikit, di film yang pertama ada sepasang sahabat sejak lahir dimana si Elle jatuh cinta dengan saudara kandungnya Lee (sahabatnya), padahal mereka berdua telah membuat perjanjian bahwa tidak ada yang boleh jatuh cinta dengan saudara kandung masing-masing. Ternyata eh ternyata kakaknya Lee ini (Noah) juga jatuh cinta dengan Elle sejak lama, akhirnya mereka backstreet lah. Sampai akhirnya ketauan salah satu dari mereka berbohong dan Lee memberikan alasan kenapa dia bikin perjanjian itu adalah karena selama ini Noah lah yang menjadi spotlight di keluarganya. That’s why Lee nggak mau Elle diambil sama Noah. OUCH! Akhirnya dengan kejujuran di endingnya mereka mencoba memahami keadaan masing-masing dan baikan deh akhirnya. Di film kedua diceritakan lagi kelanjutan kisahnya Elle & Noah yang menjalai LDR, juga Lee dan pacarnya. Disini konfliknya masih gemes-gemes-lucu sih, pacarnya Lee cemburu dengan kedekatan Lee dan Elle, karena Elle juga menaruh cemburu ke Noah (yah namanya LDR, sulit sister). Ditambah lagi Elle mulai dekat dengan cowok baru di sekolahnya karena project lomba tari, ternyata cowok ini menaruh perasaan sama Elle (juga Elle) makin rumit sister. Sampai klimaksnya di acara Thaksgiving mereka semua dipertemukan di satu meja dan saling menyindir. Hancurlah makan malam Thanksgiviing itu, hingga akhirnya ibunya Lee memberi masukan ke Elle (ini yang akan jadi topik tulisan gw disini he)
“Daritadi kalian hanya saling bicara tanpa mengizinkan salah satu dari kalian untuk mendengarkan”
DAMN JLEB!

