Akhirnya saya terpapar virus yang sudah hampir 2 tahun ini merajai dunia.
Saya membagikan pengalaman saya selama terpapar Covid-19 agar menjadi tempat sharing untuk para penyintas. Sebelumnya saya ceritakan dulu asal mula saya terpapar.
Sebenarnya saya sudah lama mempertanyakan ini kepada diri saya sendiri, pertanyaan yang beberapa hari sebelum saya dinyatakan (+) selalu muncul di pikiran saya. “kok saya belum kena Covid ya?”
Bagi sebagian orang memang aneh untuk memikirkan hal ini, tapi tidak sama sekali bagi saya. Karena meskipun tetap menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah, saya tetap saja masih ke tempat publik dan bertemu dengan beberapa orang yang saya tidak ketahui kondisinya. Saya yakkin bahwa saya bisa terapapar kapan saja & menjadi carrier bagi orang tersayang saya di rumah.
Jumat, 18 Juni saya & keluarga berencana untuk staycation di luar kota. Hari sebelumnya saya mempersiapkan diri untuk tes swab antigen (sebelum bertemu orang tua di rumah), tapi batal karena hujan deras dan kesibukan kantor. Dan akhirnya pada Kamis sore saya langsung memutuskan untuk pulang ke rumah dengan transportasi publik.
Rutinitas saya sebelum masuk rumah orang tua adalah ketok pintu, mengucap salam, menaruh barang di depan pintu dan meminta orang rumah untuk menyemprotkan disinfektan sementara saya mandi. Setelah semua dilakukan baru saya bertemu orang tua & berkumpul dengan keluarga.
Dikarenakan kami semua berangkat staycation pada jumat pagi, maka kakak saya berinisiatif untuk melakukan rapid antigen sendiri di rumah malam itu. Dan saya yang pertama kali diambil samplenya, saat itu intuisi saya sudah berdebat dalam hati “ini ada sesuatu yang akan terjadi” pikir saya. FYI, kebetulan saya sangat meyakini apa yang intuisi saya rasakan, dan jarang sekali intuisi saya itu berkata salah. Dan benar saja, hasil rapid antigen saya terlihat 2 garis di catridgenya.
Saya langsung menggunakan masker setelah melakukan 2x tes untuk lebih meyakinkan dan segera pergi ke tempat PCR dekat rumah, saat itu juga saya memutuskan untuk tidak ikut staycation. Hasil PCR tidak bisa diketahui dengan cepat, meski begitu saya sudah yakin 100% kalau saya ini (+). Akhirnya karena keterbatasan ruangan di rumah yang malam itu diisi oleh sanak-saudara, saya memutuskan untuk tidur di ruang tamu dengan menggunakan masker (sangat tidak nyaman).
Keesokan paginya saya pindah ke loteng rumah yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian, selama saya menunggu hasil PCR. Dan akhirnya dengan berat hati semua keluarga pergi staycation tanpa saya, huhuhu.
Hasil PCR baru keluar jam 9 malam, saya sudah pindah ke dalam rumah untuk melakukan isolasi mandiri (karena tidak ada orang di rumah saat itu). Dengan melihat CT Value saya yang cukup tinggi (34), saya dengan tenang mengabari keluarga (untuk minta lapor ke RT & faskes), orang kantor (untuk dilakukan tracing) dan sahabat-sahabat saya.
Akhirnya saya menjalani isoman sendirian di rumah selama 10 hari. Orang tua saya minta untuk menetap di rumah kakak saya, faskes setempat sudah menjadwalkan swab PCR untuk kedua orang tua karena kontak erat dengan saya.
Di hari ke-9 isoman saya mendapat kabar bahwa ibu saya dinyatakan (+) juga dengan CT Value 32. Akhirnya ibu bergabung dengan saya untuk melanjutkan isoman di rumah. Alhamdulillah beliau bergejala ringan, hanya panik di awal menerima kabar. Tapi karena melakukan isoman bersama saya, akhirnya cukup bisa diatasi dengan mudah.
Setelah melewati 10 hari isoman, saya melakukan swab antigen ulang dan dinyatakan sudah (-). Ibu saya melanjutkan sisa isomannya bersama saya di rumah, sampai beliau juga dinyatakan (-) hingga kami semua akhirnya berkumpul bersama lagi.
Saya dan orang tua sangat bersyukur karena tidak mengalami gejala berat dan bisa melakukan isoman di rumah dengan dukungan dari lingkungan sekitar. Melalui blog ini, saya akan sharing apa saja yang saya lakukan selama menjalani isoman, semoga membantu ya.
JANGAN ANGGAP KALIAN BERSIH DARI VIRUS
Dari pengalaman saya diatas, saya sendiri tidak mengetahui paparan virus ini didapat darimana/siapa. Seketat apapun kita menjalankan protokol kesehatan, pasti akan ada celah untuk virus ini masuk ke tubuh kita. Pastikan kalian bukan carrier, dengan cara rutin melakukan tes swab. Jaga diri & orang-orang tersayang kalian.
SEGERA LAPOR KE RT/FASKES
Ini sangat penting menurut saya, karena tetangga adalah saudara terdekat kita. Jadi jangan ragu/malu untuk mengabari lingkungan bahwa kita terpapar dan sedang melakukan isoman di rumah. Beruntung saya tidak bergejala sama sekali, jadi hanya mengkonsumsi vitamin. Tapi bagi kalian yang mengalami gejala ringan sampai berat, sangat dianjurkan untuk melapor ke faskes terdekat untuk mendapatkan saran medis yang tepat.
MENGURANGI KONSUMSI BERITA TENTANG COVID-19
Bagi saya ini sangat berpengaruh, kita juga wajib menjaga pikiran kita dari konsumsi informasi yang dapat mengganggu mental kita saat isoman di rumah. Yang saya lakukan yaitu uninstall Instagram, karena banyak waktu saya terbuang disana. Saya juga tidak menonton berita di TV yang menyiarkan tentang informasi Covid-19. Mengabaikan broadcast message dari group Whatsapp juga saya lakukan selama saya isoman.
MELAKUKAN KEGIATAN YANG BIKIN BAHAGIA
Selama masih mampu bergerak, lakukanlah aktifitas yang membangkitkan hormon kebahagiaan di diri kita. In my case, I’ve spent my time to talked to my favorite person. Normalnya bisa sampai pagi, tapi karena saya butuh waktu tidur yang cukup, beberapa jam mengobrol di telepon saja sudah lebih dari cukup. Saya juga menyempatkan diri untuk stretching badan 15-30 menit sambil berjemur. Menonton program tv yang ringan dan nggak bikin mikir juga jadi rutinitas saya selama isoman di rumah.
TETAP TAAT PROTOKOL KESEHATAN SELAMA ISOMAN
Lagi-lagi saya merasa beruntung karena bisa isoman di rumah sendiri tanpa mengganggu anggota keluarga lainnya (karena keluarga mengungsi di rumah lain). Meskipun begitu saya tetap melakukan protokol yang disarankan oleh Satgas Covid-19, tetap menggunakan masker ketika berada di luar rumah (saat berjemur atau mengambil barang diluar), menjaga jarak dengan orang yang mengirim makanan/obat/lainnya, menjaga kebersihan ruangan isoman (saya rutin menyemprotkan cairan disinfektan tiap beberapa jam) dan mengatur sirkulasi udara.
JANGAN PANIK DAN TETAP BERPIKIR POSITIF
Saat ini semua manusia di dunia menghadapi musuh yang sama, jadi jangan panik. Kemenkes RI & WHO sudah mengeluarkan aturan-aturan yang bisa dilakukan bagi orang yang terpapar. Terima virus ini dengan legowo, jadikan ini sebagai pengingat bahwa “Tuhan sedang menghapus sebagian dosa kita”, mungkin kita diminta untuk istirahat sejenak dari rutinitas. Tubuh kita butuh rehat beberapa hari untuk pemulihan.
Mungkin itu saja yang bisa saya share sebagai penyintas Covid-19.
Tentu yang paling penting dari semua pengalaman ini adalah menerima & sadar bahwa virus ini ada di tubuh kita, dan bisa kapan saja menularkan orang-orang tersayang kita, oleh karena itu kita tetap butuh protokol kesehatan yang ketat selama isoman.
Untuk teman-teman yang sedang terpapar & menjalani perawatan, mari sama-sama kita lawan virus ini dengan rasa syukur. Semoga semua pulih dengan cepat.

No comments:
Post a Comment