Showing posts with label #catatanboteh. Show all posts
Showing posts with label #catatanboteh. Show all posts

My (Gratitude) Covid-19 Story

Akhirnya saya terpapar virus yang sudah hampir 2 tahun ini merajai dunia.
Saya membagikan pengalaman saya selama terpapar Covid-19 agar menjadi tempat sharing untuk para penyintas. Sebelumnya saya ceritakan dulu asal mula saya terpapar.
 
Sebenarnya saya sudah lama mempertanyakan ini kepada diri saya sendiri, pertanyaan yang beberapa hari sebelum saya dinyatakan (+) selalu muncul di pikiran saya. “kok saya belum kena Covid ya?”
 
Bagi sebagian orang memang aneh untuk memikirkan hal ini, tapi tidak sama sekali bagi saya. Karena meskipun tetap menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah, saya tetap saja masih ke tempat publik dan bertemu dengan beberapa orang yang saya tidak ketahui kondisinya. Saya yakkin bahwa saya bisa terapapar kapan saja & menjadi carrier bagi orang tersayang saya di rumah. 
 
Jumat, 18 Juni saya & keluarga berencana untuk staycation di luar kota. Hari sebelumnya saya mempersiapkan diri untuk tes swab antigen (sebelum bertemu orang tua di rumah), tapi batal karena hujan deras dan kesibukan kantor. Dan akhirnya pada Kamis sore saya langsung memutuskan untuk pulang ke rumah dengan transportasi publik.
Rutinitas saya sebelum masuk rumah orang tua adalah ketok pintu, mengucap salam, menaruh barang di depan pintu dan meminta orang rumah untuk menyemprotkan disinfektan sementara saya mandi. Setelah semua dilakukan baru saya bertemu orang tua & berkumpul dengan keluarga.
 
Dikarenakan kami semua berangkat staycation pada jumat pagi, maka kakak saya berinisiatif untuk melakukan rapid antigen sendiri di rumah malam itu. Dan saya yang pertama kali diambil samplenya, saat itu intuisi saya sudah berdebat dalam hati “ini ada sesuatu yang akan terjadi” pikir saya. FYI, kebetulan saya sangat meyakini apa yang intuisi saya rasakan, dan jarang sekali intuisi saya itu berkata salah. Dan benar saja, hasil rapid antigen saya terlihat 2 garis di catridgenya.



 

Spread The Goodness

 Menemukan postingan instagram yang di capture dari akun twitter seseorang, begini isinya:

Kadang akutu mikir
Kita suka diminta untuk gak compare hidup kita dengan kebahagiaan orang lain yang terlihat di sosial media.
Tapi kita malah diperbolehkan buat compare hidup kita dengan orang dibwah kita pas kitanya lagi ngedown, dengan maksud supaya kita bersyukur.
Padahal seharusnya…kalo mau sedih ya sedih aja, bahagia ya bahagia aja.
Kenapa harus pake cara membandingkan untuk bikin kita ngerasa kurang atau ngerasa cukup?

WOW this hit me so hard.

Siapa kita, beraninya men-judge hidup orang lain berlebihan atau kekurangan?
Kepada sesama, kita hanya diizinkan untuk berbuat baik, juga kepada diri sendiri.
Sudah kah kita berhasil menerima kesedihan dan kebahagiaan secara tulus?
Dan berbaik hati pada diri sendiri.


Pinterest

Quarantine Twenty-Twenty

Bagaimana rasanya 2020?

Baru berjalan bulan keempat lho tahun ini? How was it?

Maret sampai April ini rasanya jadi tantangan besar bagi semua warga IND ya?
Perkara virus yang tak kasat mata bisa merubah kebiasaan manusia yang tadinya demen mepet-mepet sekarang disuruh jaga jarak, yang tadinya nggak masalah makan dipinggir jalan jadi tiap detik semprot disinfektan. Akhirnya semua tahu apa yang dirasakan oleh seorang pengidap OCD, alih-alih wajib dilakukan untuk keselamatan semua manusia.

Terhitung sudah hampir satu bulan para pekerja -yang beruntung- diminta bekerja di rumah, siswa-siswi belajar di rumah bahkan UN ditiadakan, kebayang nggak tuh angkatan 2020 nggak bisa ngerasain susahnya belajar untuk UN, deg-degannya nungguin hasil UN dan bahagianya coret-coretan sama temen se-angkatan. Mereka akan ngerasain nggak ya masa-masa itu?

Sejak 16 Maret tempat gw kerja sudah menerapkan kebijakan Work From Home, seminggu berjalan sih -katanya- “Oh, bisa kok ternyata kerja dari rumah”, pekan keempat mulai deh keluhan-keluhan bosan memenuhi status whatsapp/sosmed, NGAKU!
Tapi buat gw, WFH bukan hal yang sangat baik/membosankan parah sekalipun. Karena dalam keadaan normal, gw adalah pekerja 925 (re-nine to five) yang selalu bisa membagi prioritas antara kerjaan dan social life dengan seimbang. Dalam masa karantina seperti sekarang ini kerjaan masih sangat bisa di monitor dari rumah dengan jam kerja yang percis sama seperti di kantor, bedanya…selesai kerja kalau lagi di kos biasanya selalu dihibur sama smartphone sedangkan saat sekarang gw di rumah jadi punya banyak quality time sama orang rumah yang sebelumnya hanya gw temui dua hari dalam seminggu.

Meski menyadari dalam sebulan di rumah ada banget kok masa-masa bosennya...just face it!
Dua minggu pertama di rumah rutinitasnya bangun tidur, sun-bathing, mandi, dasteran, buka laptop, kerja, istirahat, kerja, main sama orang rumah, makan and repeat.
Di minggu ketiga gw mulai men-challange diri gw untuk berpakaian rapi dan dandan seperti mau ke kantor aja, it works! I know, dandan memang selalu jadi mod-booster buat gw hahahah *centil*
Gw juga mulai ikutan olahraga online yang dibuat sama gym langganan gw (ya meskipun cuma beberapa kali aja sih). Dan hal paling keren saat ini yang bisa kita lakukan, apalagi kalau bukan tele-conference. Thanks to temen-temen yang beberapa kali gw ajak video call biar makin seru curhatnya rame-rame, yang bersedia ngobrol di telpon berjam-jam hanya untuk saling menguatkan selama masa karantina.

This too shall pass.


Pinterest